Skip to main content

Neurofeedback Therapy

Sabilati Husna 
P22030124936
Mahasiswa RPL 2024
Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Elektromedis
Poltekkes Kemenkes Jakarta II

Ø  Apa itu Neurofeedback?    

    Neurofeedback Therapy atau yang biasa dikenal dengan istilah EEG Biofeedback atau pelatihan gelombang otak merupakan jenis biofeedback dimana individu disajikan dengan pandangan waktu nyata mengenai pola neurologisnya sendiri,  mempelajari strategi untuk memanipulasi gelombang otak, dan bertujuan untuk mengatur sendiri fungsi otak yang berbeda.
    Neurofeedback adalah sejenis biofeedback, yang mengajarkan pengendalian diri fungsi otak kepada subjek dengan mengukur gelombang otak dan memberikan sinyal umpan balik. Neurofeedback biasanya memberikan umpan balik audio dan atau video. Umpan balik positif atau negatif dihasilkan untuk aktivitas otak yang diinginkan atau tidak diinginkan.
    Terapi neurofeedback adalah prosedur noninvasif yang mengukur gelombang otak pasien dan memberikan pasien umpan balik secara langsung tentang cara kerja otak. Ini adalah jenis biofeedback, yaitu teknik pikiran-tubuh yang bertujuan untuk membantu pasien memperoleh kendali sukarela atas fungsi tubuh tertentu yang biasanya tidak disengaja (seperti detak jantung, kontraksi otot, atau gelombang otak). Biofeedback menggunakan instrumen elektronik untuk menyampaikan kepada pasien proses fisiologis tertentu yang terjadi di dalam tubuh mereka yang biasanya tidak mereka sadari. 
    Terapi neurofeedback, khususnya, digunakan untuk membantu mengajarkan pengendalian diri terhadap fungsi otak dengan menunjukkan kepada pasien bagaimana otak mereka bereaksi terhadap pemicu tertentu. Seiring berjalannya waktu, pasien belajar mengenali saat otak mereka berada dalam kondisi tertentu. Kemudian, mereka dapat belajar menciptakan kembali kondisi yang diinginkan, seperti relaksasi, atau menghindari kondisi yang tidak diinginkan, seperti agitasi, dalam kehidupan sehari-hari.
    Tujuan utama neurofeedback adalah untuk menciptakan perubahan yang dipelajari dalam aktivitas listrik otak yang terkait dengan gejala klinis atau dikaitkan dengan keadaan positif (misalnya, kinerja optimal). Neurofeedback berkontribusi pada plastisitas saraf dengan mengatasi kelebihan dan kekurangan dalam pita frekuensi tertentu yang dikoreksi menggunakan pelatihan penghambatan atau penambahan.
    Neurofeedback Therapy (NFT) menggunakan perangkat pemantauan untuk memberikan informasi dari waktu ke waktu kepada individu mengenai status fungsi fisiologis mereka. Karakteristik yang membedakan NFT dari biofeedback lainnya adalah fokus pada sistem saraf pusat dan otak. Neurofeedback Therapy (NFT) memiliki dasar dalam ilmu saraf dasar dan terapan serta praktik klinis berbasis data. Terapi ini menjelaskan aspek perilaku, kognitif, dan subjektif serta aktivitas otak.
    Manfaat dari terapi neurofeedback biasanya dirasakan sebagai peningkatan fokus, peningkatan konsentrasi, peningkatan energi, kualitas tidur lebih baik, penurunan suasana hati, penurunan agitasi, dan pengurangan kecemasan, serta pengurangan gejala fisik lainnya yang biasanya terkait dengan stres seperti sakit kepala.

Simak video berikut


Ø  Bagaimana cara kerja neurofeedback?

Neurofeedback Therapy (NFT) didahului dengan penilaian objektif terhadap aktivitas otak dan status psikologis. Selama terapi, sensor Electroencephalograph (EEG) akan ditempatkan di kulit kepala. Sensor EEG berfungsi untuk memantau gelombang otak. Sensor EEG tidak masuk ke kulit kepala dan tidak menimbulkan rasa sakit. Jadi, sensor khusus (Elektroda) akan dipasang di kepala atau di kulit kepala lalu dihubungkan ke perangkat elektronik sensitif dan perangkat lunak komputer yang mendeteksi, memperkuat, dan merekam aktivitas otak tertentu. EEG akan merekam aktivitas otak yang dipersentasikan dengan garis gelombang.

Informasi yang dihasilkan diumpankan kembali ke pasien yang diterapi hampir seketika dengan pemahaman konsep bahwa perubahan dalam sinyal umpan balik menunjukkan apakah aktivitas otak pasien tersebut berada dalam jarak yang ditentukan atau tidak. 

Berdasarkan umpan balik ini, berbagai prinsip pembelajaran, dan panduan praktisi, perubahan dalam pola otak terjadi dan dikaitkan dengan perubahan positif dalam kondisi fisik, emosional, dan kognitif. 

Seringkali pasien tidak menyadarinya secara sadar mekanisme yang digunakan untuk mencapai perubahan tersebut, meskipun pasien secara rutin memperoleh “perasaan yang dirasakan” akan perubahan positif tersebut dan seringkali mampu mengakses kondisi tersebut di luar sesi umpan balik.

NFT tidak melibatkan pembedahan atau pengobatan dan tidak menyakitkan atau menyakitkan. Bila diberikan oleh profesional berlisensi dengan terapi yang sesuai, umumnya pasien terapi tidak mengalami efek samping negatif.

Biasanya pasien yang terapi menganggap NFT sebagai pengalaman yang menarik. Neurofeedback beroperasi pada tingkat fungsional otak dan melampaui kebutuhan untuk mengklasifikasikan menggunakan kategori diagnostik yang ada. Ia memodulasi aktivitas otak pada tingkat dinamika neuronal eksitasi dan inhibisi yang mendasari efek karakteristik yang dilaporkan.

Karena merupakan metode pengaturan diri, NFT berbeda dari pendekatan neuromodulasi lain yang konsisten dengan penelitian yang diterima seperti audio-visual entrainment (AVE) dan repetitive transcranial magnetic stimulated (rTMS) yang memicu respons otak otomatis dengan menghadirkan sinyal tertentu. NFT juga tidak didasarkan pada perubahan yang disengaja dalam pola pernapasan seperti respiratory sinus arrhythmia (RSA) yang dapat mengakibatkan perubahan gelombang otak. Pada tingkat neuronal, NFT mengajarkan otak untuk memodulasi pola eksitatori dan inhibitori dari rangkaian dan jalur neuronal tertentu berdasarkan detail penempatan sensor dan algoritma umpan balik yang digunakan sehingga meningkatkan fleksibilitas dan pengaturan diri dari pola relaksasi dan aktivasi.


Ø  Penyakit apa yang membutuhkan neurofeedback?
Pemeriksaan neurofeedback dapat dilakukan untuk mendiagnosis gangguan otak lain seperti epilepsi dan kejang. Selain itu, neurofeedback therapy juga bermanfaat untuk penyakit lain seperti, ADHD (Attantion Deficit Hyperactivity Disorder), sulit fokus, tumor otak, ensefalopati, peradangan otak, gangguan kecemasan, gangguan belajar, disleksia, diskalkulia, adiksi atau kecanduan, gangguan tidur, gangguan memori, pusing dan vertigo, migrain, depresi, skizofrenia serta trauma pada otak. Neurofeedback therapy bisa dilakukan pada seseorang dengan koma persisten untuk mengkonfirmasi kematian otak. Pemeriksaan EEG Biofeed back berkelanjutan bisa digunakan untuk membantu menemukan tingkat anastesi yang tepat pada seseorang yang mengalami koma.

 

Ø  Apa saja tahapan pemeriksaan neurofeedback therapy?

Ada beberapa proses yang dilakukan saat terapi. Pemeriksaan neurofeedback terapi terbagi menjadi tiga tahap diantaranya sebagai berikut.

1)   Tahapan Sebelum Tes

Tahap pertama sebelum melakukan pemeriksaan EEG Biofeedback, Anda dapat memberitahu kepada dokter perihal obat yang sedang dikonsumsi atau masalah alergi obat. Dokter biasanya memberi tahu agar mencuci rambut sehari sebelum melakukan terapi.

2)   Tahapan Selama Tes

Tahapan yang dilakukan selama tes berlangsung, Anda akan diminta berbaring di tempat yang telah disediakan. Nantinya akan ada seseorang yang bertugas menempatkan beberapa sensor di kulit kepala. Sensor ini biasa disebut elektroda yang bertugas mengambil aktivitas dari sel-sel di dalam otak yang disebut neuron. Aktivitas sel-sel tersebut akan dikirimkan langsung ke mesin. Hasilnya berupa serangkaian garis yang terekam pada kertas bergerak pada layar komputer.

3)   Tahapan Setelah Tes

Terakhir tahapan setelah tes, seseorang akan bertugas untuk melepas sensor yang ada di kepala dan membersihkan lem yang menempel. Jika tidak ada masalah dan dokter memberikan izin Anda sudah bisa pulang maka dokter akan mengizinkan Anda untuk pulang.

 

Ø  Bagaimana gambaran saat sesi terapi dengan neurofeedback?

 

1.  Ciptakan suasana hati. Praktik Tourgeman menggunakan terapi neurofeedback untuk membantu pasien rileks dan mengelola emosi, sehingga mereka menyiapkan ruang terapi agar senyaman dan senyaman mungkin bagi pasien.
2. Hubungkan ke elektroda. Mirip dengan elektroensefalografi (EEG), sesi terapi neurofeedback dimulai dengan mengenakan helm, topi, atau ikat kepala yang telah dipasangi elektroda. Sensor ini mendeteksi sinyal listrik yang dihasilkan oleh otak dan mengirimkannya ke komputer. Tidak ada jarum atau obat yang digunakan.
3.  Berpartisipasilah dalam aktivitas stimulus. Apa yang Anda lakukan selama sesi bergantung pada masalah yang ingin Anda tangani. Misalnya, Anda dapat menonton sesuatu di layar, memejamkan mata, dan mendengarkan audio atau terlibat dalam aktivitas seperti bermain gim video. Anda dapat berbaring atau duduk di kursi. Sementara Anda melakukan ini, penyedia layanan Anda akan memantau aktivitas Anda dan memetakan gelombang otak Anda terhadap kondisi ideal yang ingin Anda capai.
4.   Menerima umpan balik. Selama aktivitas, Anda akan menerima isyarat tentang kinerja otak Anda. Tujuannya adalah untuk tetap selaras dengan reaksi Anda sehingga Anda dapat mengarahkan otak Anda ke kondisi yang diinginkan. Sesi biasanya berlangsung selama 60 menit. Biasanya menggunakan contoh dimana layar berubah warna sesuai dengan emosi Anda. Jika Anda menunjukkan emosi negatif, warnanya menjadi lebih gelap; jika Anda menunjukkan emosi positif, layar menjadi lebih terang.
5.  Ulangi. Secara realistis, Anda tidak akan melihat hasilnya saat Anda selesai terapi. Terapi neurofeedback sering kali memerlukan waktu antara enam dan 20 sesi, meskipun tidak ada jumlah sesi pasti yang menjamin hasil yang bertahan lama, dan jumlah sesi akan bervariasi pada setiap pasien.
 
Ø Apa saja kelengkapan pada alat neurofeedback?
 

Peralatan yang dibutuhkan meliputi PC yang berisi perangkat lunak pelatihan, keyboard, mouse, dan dua layar, DC-EEG dan penguat sinyal bio, dan sejumlah elektroda (biasanya 7) untuk mendapatkan EEG dan mengendalikan pergerakan mata dan otot.

1a. Elektroda atau Sensor

Sensor, seperti contohnya, ditempelkan ke kulit kepala menggunakan pasta konduktif. Sering kali, sensor ini disebut sebagai "elektroda", tetapi dalam sebagian besar bentuk neurofeedback, tidak ada arus yang dikirim ke otak. Sebaliknya, sensor menerima aktivitas kortikal dan mengirimkannya melalui amplifier ke komputer.

1b. Tutup dengan beberapa elektroda
Dalam beberapa kasus, untuk penilaian atau bentuk neurofeedback di mana banyak sensor digunakan, tutup dengan elektroda yang ditempatkan di dalamnya dapat digunakan untuk memastikan penempatan sensor yang tepat. Sistem yang digunakan biasanya adalah Sistem Internasional 10-20.

2. Penguat
Ada banyak amplifier di luar sana, jadi amplifier yang digunakan oleh penyedia neurofeedback Anda mungkin mirip dengan yang ini, atau mungkin terlihat sangat berbeda, tetapi terlepas dari jenis amplifier yang digunakan, tujuannya sama: Kotak menerima sinyal dari sensor dan memperkuatnya sehingga komputer dapat menganalisis dan menampilkannya. Kotak akan terhubung ke sensor dan komputer melalui kabel atau koneksi nirkabel.

3. Perangkat Lunak Komputer
Seperti halnya amplifier, ada berbagai macam perangkat lunak yang tersedia untuk penyedia neurofeedback Anda. Perangkat lunak ini bertanggung jawab atas 3 hal dasar:
a. Lacak EEG ke grafik sehingga penyedia neurofeedback dapat melihatnya.
b. Memungkinkan penyedia memasukkan kondisi yang diinginkan (disebut ambang batas) atau tujuan.
c. Mengendalikan tampilan pendengaran dan visual yang memberi Anda informasi tentang apa dan bagaimana otak Anda berfungsi.

4. Pengulangan Membuat Kebiasaan

Saat pola-pola listrik tersebut diulang, pola-pola tersebut menjadi kebiasaan bagi otak, sehingga pola tersebut bertahan untuk jangka waktu yang lebih lama. Setelah beberapa saat, umpan balik tidak lagi diperlukan bagi otak untuk mengulang keadaan yang telah diajarkan kepadanya.

5. Perubahan Otak
Karena umpan balik yang Anda dapatkan terjadi hampir segera setelah otak Anda menghasilkan sinyal, otak Anda akan mengulang pola yang menghasilkan imbalan (biasanya berupa suara dan/atau video atau permainan yang sedang dimainkan). Jika otak mengulanginya cukup sering, ia akan mempelajari pola tersebut dan perubahannya akan bertahan lama.

Ø  Apa saja jenis neurofeedback?

1.   Neurofeedback yang paling sering digunakan adalah neurofeedback frekuensi/daya. Teknik ini biasanya mencakup penggunaan 2 hingga 4 elektroda permukaan, yang terkadang disebut "neurofeedback permukaan". Teknik ini digunakan untuk mengubah amplitudo atau kecepatan gelombang otak tertentu di lokasi otak tertentu untuk mengobati ADHD, kecemasan, dan insomnia.
2.  Neurofeedback potensial kortikal lambat (SCP-NF) meningkatkan arah potensial kortikal lambat untuk mengobati ADHD, epilepsi, dan migrain. 
3.  Sistem neurofeedback berenergi rendah (LENS) mengirimkan sinyal elektromagnetik lemah untuk mengubah gelombang otak pasien saat pasien tidak bergerak dengan mata tertutup. Jenis neurofeedback ini telah digunakan untuk mengobati cedera otak traumatis, ADHD, insomnia, fibromyalgia, sindrom kaki gelisah, kecemasan, depresi, dan kemarahan.
4.  Neurofeedback hemoensefalografi (HEG) memberikan umpan balik pada aliran darah otak untuk mengobati migrain.
5.  Neurofeedback Z-score langsung digunakan untuk mengobati insomnia. Neurofeedback ini memperkenalkan perbandingan variabel aktivitas listrik otak secara terus-menerus ke dalam basis data sistematis untuk memberikan umpan balik yang berkelanjutan.
6.  Tomografi elektromagnetik resolusi rendah (LORE-TA) melibatkan penggunaan 19 elektroda untuk memantau fase, daya, dan koherensi. Teknik neurofeedback ini digunakan untuk mengobati kecanduan, depresi, dan gangguan obsesif-kompulsif.
7.   Pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) adalah jenis neurofeedback terbaru yang mengatur aktivitas otak berdasarkan umpan balik aktivitas dari area subkortikal yang dalam di otak.

 

Ø  Apa risiko terapi menggunakan neurofeedback?

    Secara umum, perawatan neurofeedback dianggap sebagai praktik yang aman dan memiliki risiko minimal. Sebuah studi menemukan bahwa efek samping yang paling umum adalah rasa tidak nyaman saat menggunakan headset dan rasa kantuk, meskipun rasa kantuk tersebut dilihat oleh para pasien yang mengalami nyeri kronis, cedera otak traumatis, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD) sebagai efek samping yang positif, karena hal tersebut membantu mereka tidur.
    Sementara itu, penelitian yang menguji terapi tersebut pada pasien depresi dan pasien dengan gangguan sistem saraf pusat menyatakan bahwa efek sampingnya mungkin termasuk agitasi, gangguan kognitif, kecemasan, mudah tersinggung, dan agresi.
    Selain efek sampingnya, mengingat efektivitasnya yang belum meyakinkan, ada risiko bahwa terapi neurofeedback tidak bekerja untuk Anda atau efeknya tidak bertahan lama, yang berpotensi membuang-buang waktu dan uang.
    Terapi dengan neurofeedback terkadang dapat mengakibatkan respons yang merugikan yang meningkatkan gejala sementara yang biasanya terkait dengan relaksasi dan menenangkan sistem saraf pusat seperti kelelahan, sakit kepala, pusing, pening, mudah tersinggung, suasana hati berubah-ubah, menangis, insomnia, agitasi, dan kesulitan dengan fokus dan kecemasan. Reaksi-reaksi ini, jika terjadi, bersifat sementara dan biasanya hanya berlangsung 24-48 jam. Setelah klien/pasien menjadi lebih rileks dan sadar, mereka cenderung mengintegrasikan masalah emosional masa lalu dan gejala-gejala ini mereda.

Ø  Referensi

1) https://neurogrow.com/services/eeg-based-neurofeedback/
2) https://www.ciputramedicalcenter.com/neurofeedback-therapy-untuk-adhd/#:~:text=Pernah%20dengar%20apa%20itu%20Neurofeedback,di%20klinik%20atau%20rumah%20sakit.
3) https://isnr-org.translate.goog/what-is-neurofeedback?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Neurofeedback%20(NF)%2C%20atau%20biofeedback,mempelajari%20poin%2Dpoin%20dasar%20neurofeedback
4) https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/neurofeedback
5) https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0193953X1300006
6) https://www.forbes.com/health/mind/what-is-neurofeedback-therapy/
7) https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4892319/
8) https://www-neurocaregroup-com.translate.goog/how-neurofeedback-works?_x_tr_sl=en&_x_tr_tl=id&_x_tr_hl=id&_x_tr_pto=sge#:~:text=Agar%20pasien%20dapat%20menggunakan%20keterampilan,pasien%20untuk%20mempelajari%20pengaturan%20diri.

Comments

  1. terimakasih banyak kak, informasinya sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  2. Wah lengkap sekali informasinya kak. Jarang juga yang membahas alat ini. Terima kasih infonya kak👍🏻

    ReplyDelete
  3. sangat menarik artikelnya kak terimakasih atas ilmunnya

    ReplyDelete
  4. Artikel yang sangat menarik dan bermanfaat

    ReplyDelete
  5. Ini adalah tulisan yang sangat berbobot dan mendidik dok.

    ReplyDelete
  6. sangat lengkap, terimakasih informasinya

    ReplyDelete
  7. Terima kasih, menambah wawasan baru mengenai alat ini

    ReplyDelete
  8. sangat membantu pembelajaran mahasiswa elktromedik terkait alat terapi. good job.

    ReplyDelete
  9. keren dan lengkap banget, terima kasih kak

    ReplyDelete
  10. Keren, terimakasih informasinya

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Terapi Neurologis

Sabilati Husna  P22030124936 Mahasiswa RPL 2024 Program Studi Sarjana Terapan Teknologi Rekayasa Elektromedis Poltekkes Kemenkes Jakarta II T erapi Neurologis: Pendekatan Rehabilitasi Komprehensif untuk Gangguan Sistem Saraf Terapi neurologis merupakan cabang ilmu kesehatan yang berfokus pada rehabilitasi individu yang mengalami gangguan atau cedera pada sistem saraf pusat maupun perifer. Tujuan utamanya adalah untuk memulihkan, memperbaiki, atau mengkompensasi fungsi yang hilang atau terganggu akibat kondisi neurologis, sehingga pasien dapat mencapai tingkat kemandirian dan kualitas hidup yang optimal. Dasar-dasar Terapi Neurologis Terapi neurologis didasarkan pada prinsip-prinsip neuroplastisitas, yaitu kemampuan otak untuk berubah dan membentuk koneksi baru. Dengan rangsangan yang tepat dan berulang, otak dapat membentuk jalur saraf baru untuk menggantikan fungsi yang hilang atau rusak. Mengapa Terapi Neurologis Penting? Sistem saraf mengatur hampir semua fungsi tubuh, mulai dar...